masker pisang
By : Unknown
Jika kulit Anda tidak tahan paparan
sinar matahari, terasa pedih dan gatal, mudah bereaksi terhadap
kosmetika dengan bahan kimia yang keras, berarti bisa dikatakan bahwa
Anda mempunyai kulit sensitif. Merawat kulit bertipe sensitif memang
sedikit lebih merepotkan karena kulit mudah teriritasi, kering, atau
mengelupas jika Anda menggunakan kosmetika atau bahan perawatan kulit
yang tidak tepat. Berikut ini beberapa cara merawat kulit wajah secara alami, terutama jenis kulit sensitif dengan bahan yang murah dan gampang didapat yaitu buah pisang.
Cara Merawat Kulit Wajah Secara Alami Dengan Masker Pisang
Bahan masker wajah dari pisang
Buah pisang memiliki kandungan anti
bakteri dan antioksidan tinggi sehingga sangat ampuh untuk menangkal
radikal bebas penyebab penuaan dini. Masker buah pisang berkhasiat untuk
mengencangkan kulit wajah dan leher sehingga Anda bisa tetap awet muda,
dan selain itu buah pisang cukup aman dan tidak menimbulkan alergi
walaupun kulit Anda sangat sensitif. Berikut ini adalah resep dan cara merawat kulit wajah secara alami dengan masker buah pisang.
Resep 1
Bahan-bahan yang Anda butuhkan untuk
membuat masker pisang adalah, 3 buah pisang dari berbagai jenis
sebaiknya yang sudah matang, 1 sendok makan perasan jeruk lemon, dan
satu sendok teh madu. Untuk menjadikannya masker sangat mudah, Anda
hanya perlu melumatkan buah pisang kemudian mencampurkan air perasan
lemon dan madu kemudian aduk hingga merata.
masker pisang untuk merawat kulit wajah
Bersihkan wajah terlebih dahulu sebelum
mengaplikasikan masker buah pisang ini agar nutrisi dari buah pisang dan
bahan-bahan lainnya dapat meresap semaksimal mungkin. Diamkan masker
selama 20 hingga 30 menit kemudian bilas dengan air hangat. Anda juga
disarankan untuk membilas wajah kembali dengan air dingin agar pori-pori
kulit wajah tertutup kembali.
Resep 2
Bahan-bahan pembuat masker pisang untuk
resep yang kedua ini adalah 2 potong pisang yang sudah masak, 2 sendok
makan bubur gandum, 1 butir putih telur, dan satu sendok teh madu. Sama
seperti resep pertama, Anda tinggal melumat semua bahan dan mencampurnya
menjadi satu kemudian aduk sampai rata hingga berbentuk pasta yang
tidak terlalu halus.
bahan masker pisang untuk merawat kulit wajah yang sensitif
Sebagai salah satu cara merawat kulit wajah yang sensitif secara alami,
Anda bisa mengaplikasikan resep masker pisang ini 1 atau 2 kali
seminggu. Tanpa bahan kimia berbahaya, tanpa pengawet, dan juga pewangi
perawatan tradisional ini dijamin tidak akan menimbulkan reaksi alergi
pada kulit sensitif Anda.
Merawat kulit wajah yang sensitif secara alami
Sementara itu, untuk cara merawat kulit wajah yang sensitif secara alami
sehari-hari adalah dengan menggunakan bahan pembersih ringan yang
berbahan dasar susu atau air. Bila kulit tetap tidak tahan, Anda bisa
mencoba sabun bayi. Jangan lupa mengoleskan pelembab berbentuk lotion
yang ringan setiap selesai membersihkan wajah agar kulit tidak semakin
kering.
resep bubur sumsum pisang
By : Unknown
Bubur sumsum enak disajikan hangat maupun dingin dan lebih lezat jika
dipadukan dengan pisang serta siraman saus gula merah sehingga
memberikan sensasi rasa manis, gurih dan segar.
RESEP BUBUR SUMSUM PISANG
Bahan :
- 100 gram tepung beras
- 1000 ml santan dari 1 butir kelapa
- 2 lembar daun pandan
- ½ sdt garam
- 6 buah pisang raja matang, kukus, kupas, potong2
- 200 gram gula merah
- 100 gram gula pasir
- 1 lembar daun pandan
- 200 ml air
- Masak bahan saus hingga mendidih, angkat dan sisihkan.
- Pertama-tama larutkan tepung beras terlebih dahulu dengan menggunakan sedikit santan hingga tidak berbutir, sedangkan sisa santan dimasak dengan daun pandan hingga mendidih. Kemudian masukkan larutan tepung beras, aduk dan masak sebentar hingga kental dan matang, angkat.
- Siapkan mangkuk saji, masukkan bubur dan pisang, tambahkan kuah saus gula merah.
maroon 5 - maps
By : Unknown
I miss the taste of a sweeter life
I miss the conversation
I’m searching for a song tonight
I’m changing all of the stations
I like to think that we had it all
We drew a map to a better place
But on that road I took a fall
Oh baby why did you run away?
I was there for you
In your darkest times
I was there for you
In your darkest nights
But I wonder where were you?
When I was at my worst
Down on my knees
And you said you had my back
So I wonder where were you?
When all the roads you took came back to me
So I’m following the map that leads to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following
I hear your voice in my sleep at night
Hard to resist temptation
'Cause something strange has come over me
And now I can’t get over you
No, I just can’t get over you
I was there for you
In your darkest times
I was there for you
In your darkest nights
But I wonder where were you?
When I was at my worst
Down on my knees
And you said you had my back
So I wonder where were you?
When all the roads you took came back to me
So I’m following the map that leads to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Oh oh oh
Oh oh oh
Yeah yeah yeah
Oh oh oh
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest time
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest nights
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest time
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest nights
But I wonder where were you?
When I was at my worst
Down on my knees
And you said you had my back
So I wonder where were you?
When all the roads you took came back to me
So I’m following the map that leads to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following
I miss the conversation
I’m searching for a song tonight
I’m changing all of the stations
I like to think that we had it all
We drew a map to a better place
But on that road I took a fall
Oh baby why did you run away?
I was there for you
In your darkest times
I was there for you
In your darkest nights
But I wonder where were you?
When I was at my worst
Down on my knees
And you said you had my back
So I wonder where were you?
When all the roads you took came back to me
So I’m following the map that leads to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following
I hear your voice in my sleep at night
Hard to resist temptation
'Cause something strange has come over me
And now I can’t get over you
No, I just can’t get over you
I was there for you
In your darkest times
I was there for you
In your darkest nights
But I wonder where were you?
When I was at my worst
Down on my knees
And you said you had my back
So I wonder where were you?
When all the roads you took came back to me
So I’m following the map that leads to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Oh oh oh
Oh oh oh
Yeah yeah yeah
Oh oh oh
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest time
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest nights
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest time
Oh, I was there for you
Oh, in your darkest nights
But I wonder where were you?
When I was at my worst
Down on my knees
And you said you had my back
So I wonder where were you?
When all the roads you took came back to me
So I’m following the map that leads to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following to you
The map that leads to you
Ain't nothing I can do
The map that leads to you
Following, following, following
misteri angka 13
By : UnknownDi seantero dunia terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos dan
legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Bagi kaum rasionalis,
kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua ini seharusnya ikut mati sejalan
dengan modernisasi yang merambah seluruh sisi kehidupan manusia. Namun
demikianlah yang terjadi? Ternyata tidak.
Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan- kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit.
Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 13 dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung loncat ke angka 14.
Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia. Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Firaun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya.
Terlebih oleh kaum Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.
Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.
Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).
Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13. Inilah buktinya:
-13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
-13 garis di perisai atau tameng burung.
-13 daun zaitun di kaki kanan burung.
-13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
-13 anak panah.
-13 bulu di ujung anak panah.
-13 huruf yang membentuk kalimat Annuit Coeptis
-13 huruf yang membentuk kalimat E Pluribus Unum
-13 lapisan batu yang membentuk piramida.
-13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.
Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek. Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.
Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.
sumber : pos metro balikpapan
Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan- kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit.
Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 13 dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung loncat ke angka 14.
Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia. Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Firaun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya.
Terlebih oleh kaum Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.
Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.
Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).
Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13. Inilah buktinya:
-13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
-13 garis di perisai atau tameng burung.
-13 daun zaitun di kaki kanan burung.
-13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
-13 anak panah.
-13 bulu di ujung anak panah.
-13 huruf yang membentuk kalimat Annuit Coeptis
-13 huruf yang membentuk kalimat E Pluribus Unum
-13 lapisan batu yang membentuk piramida.
-13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.
Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek. Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.
Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.
sumber : pos metro balikpapan
misteri lagu nina bobo
By : Unknown
Siapa yang tidak tau lagu “nina bobo”? lagu ini
sering dinyanyikan oleh orang tua untuk anaknya yang masih kecil ketika sulit
tidur. Dan terkadang ketika menyanyikan lagu ini, niscaya anak kecil seperti
bayi atau balita akan tertidur dengan lelapnya.
Namun taukah anda ternyata ada misteri yang
menyeramkan di balik lagu “nina bobo ini”?
Konon, judul lagu “nina bobo” ini diambil dari nama seorang anak keturunan Indonesia-Belanda bernama Hele Nina Mustika Van Rodjnik yang lahir pada tahun pada tahun 1871. Ia memiliki seorang ibu bernama Mustika yang asalnya asli dari jawa, dan dan memiliki seorang ayah yang bernama Van Rodjnik yang merupakan seorang kapten.
Konon, judul lagu “nina bobo” ini diambil dari nama seorang anak keturunan Indonesia-Belanda bernama Hele Nina Mustika Van Rodjnik yang lahir pada tahun pada tahun 1871. Ia memiliki seorang ibu bernama Mustika yang asalnya asli dari jawa, dan dan memiliki seorang ayah yang bernama Van Rodjnik yang merupakan seorang kapten.
Diceritakan bahwa Hele Nina sering mengalami susah
tidur sejak bayi. Setiap hendak tidur, Hele Nina selalu menangis. Karena Hele
Nina yang selalu menangis setiap akan tidur, ibunya yaitu Mustika pun
menyanyikan senandung-senandung kecil sehingga Hele Nina pun merasa nyaman dan
akhirnya bisa tertidur. Namun, lama kemudian Hele Nina sudah terbiasa dengan
senandung-senandung yang dinyanyikan ibunya itu, bahkan Hele Nina tidak akan
tidur jika tidak dinyanyika senandung-senandung tersebut oleh ibunya.
Mengetahui kebiasaan tersebut, ayahnya yaitu Kapten Van Rodjnik meminta Mustika
untuk membuatkan lirik dari senandung tersebut agar Hele Nina dan Van Rodjnik
mengerti. Akhirnya dibuatkan lirik “Nina Bobo” yang seperti biasa kita dengar
hingga saat ini.
Pada tahun 1875, Hele Nina mengalami sakit parah.
Bahkan karena sakitnya tersebut, Hele Nina menjadi kesulitan untuk tidur.
Akhirnya setiap malam, ibunya selalu menyanyikan lagu “Nina Bobo” untuk Hele
Nina agar bisa tertidur lelap. Hingga pada tahun 1878 atau tepat diusianya 6
tahun, Hele Nina pun meninggal akibat sakit yang dideritanya itu. Kedua orang
tuanya pun merasa sedih dan tentu merasa terpukul dengan meninggalnya Hele
Nina.
Seminggu sejak Hele Nina meninggal, Kapten Van
Rodjnik melihat Mustika tengah menyanyikan lagu “Nina Bobo” di kamar mandi. Ia
mengatakan bahwa ia mendengar Hele Nina
sedang menangis di kamar mandi, sehingga ia pun berinisiatif untuk menyanyikan
lagu “Nina Bobo” tersebut.
Sejak kejadian tersebut, Mustika menjadi sering
menyanyikan lagu “Nina Bobo” tersebut bahkan setiap malam ia juga menyanyikan lagu
tersebut, hingga akhirnya ia meninggal dunia.
Setelah kepergian Hele Nina dan Mustika, Kapten Van
Rodjnik pun hidup sendirian. Ia mengaku sering mendengar suara tangisan bayi
yang sering terdengar pada malam hari. Namun Kapten Van Rodjnik tidak menghiraukannya.
Hingga suatu malam saat Kapten Van Rodjnik tidur, ia terbangun karena terkejut
mendapati tangan seorang anak kecil berumur 6 tahun membangunkannya dan
sekaligus dengan suara tangisan. Anak kecil itupun berkata bahwa ia ingin
dinyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang tentunya merupakan “Nina Bobo”.
Pasca
kejadian tersebut, Kapte Van Rodjnik sangat terganggu. Kemudian ia selalu
menyanyikan lagu “Nina Bobo” setiap malamnya ketika hendak tidur.
Konon katanya, ketika anda atau para orang tua
lainnya menyanyikan lagu “Nina Bobo” ini sebagai pengantar tidur bayi atau
balita anda saat malam hari tepat ketika anda meninggalkan bayi atau balita
anda tidur, Nina akan datang ke kamar anak anda dan menjaganya agar tetap
tertidur lelap hingga pagi harinya.
SITUS SEJARAH DI KABUPATEN BLORA
By : Unknown Blora merupakan sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Jawa
Tengah. Kabupaten Blora sebagai sebuah kota telah meninggalkan banyak
situs yang berserakan. Hal ini berkaitan dengan adanya peninggalan dari
kerajaan jipang panolan dan situs wura-wari. Situs-situs sejarah ini
misalnya:
Perpustakaan Daerah
Perpustakaan daerah biasanya merupakan sebuah perpustakaan yang lokasinya di tingkat kabupaten. Sebagai contoh misalnya: perpustakaan yang ada dikabupaten Blora yang beralamat di jalan A.Yani kompleks GOR Kolonel Soenandar. Di perpustakaan ini tersimpan berbagai macam koleksi sumber sejarah tertulis yang meliputi berbagai bidang serta buku-buku mengenai sejarah blora, kebudayaan blora, suku Samin dan sumber-sumber lain yang kompeten dalam penulisan sejarah.
Museum Mahameru
Berawal dari rasa iri, meri terhadap kabupaten tetangga seperti Rembang, Pati, Grobogan, dan Bojonegoro (Jawa Timur), Mahameru ini dibangun,” ungkap Ketua Yayasan Mahameru Blora Gatot Pranoto BE. Pada awalnya, dengan merekrut beberapa personel muda yang memiliki keinginan untuk pelestarian budaya dan sejarah, obsesi Mahameru masih ambyah-ambyah atau kurang terfokus. Begitu berdiri, tidak tanggung-tanggung langsung berbadan hukum. Kali pertama yang dilakukan sejumlah personel Mahameru adalah menelusuri literatur dan studi lapangan dengan obsesi menyusun buku sejarah Blora. Latar belakangnya, selama ini masih terlalu banyak versi penyusunan sehingga buku sejarah Blora ini belum diketahui ending-nya.
Didorong oleh keinginan terus maju, tidak puas dengan apa yang diraih saat ini, Yayasan Mahameru secara rutin menerjunkan tim penelusur dan pemantau benda-benda bersejarah ke seluruh pelosok di Blora. Fosil binatang raksasa, pecahan keramik dari negeri manca, bebatuan, tosanaji telah ditemukan tim ekspedisi itu. penemuan fosil kerbau purba yang diperkirakan sudah berusia 1 juta – 2 juta tahun lalu di Kecamatan Menden, Blora, kini tim Yayasan Mahameru Blora kembali menemukan fosil binatang purba jenis pemakan daging yang diperkirakan juga berusia jutaan tahun. Temuan fosil baru itu secara lisan telah dilaporkan ke Dinas Pariwisata Blora dan barangnya saat ini untuk sementara disimpan di Rumah Sejarah Blora..
Temuan di Desa Rowobungkul adalah pecahan keramik yang diperkirakan peninggalan zaman Dinasti Ming, sebagian peninggalan Dinasti Tsung dan Dinasti Tsing. Yang menarik, hamparan pecahan keramik itu berada di area yang sangat luas, 20 hektare
Benda bersejarah yang menjadi koleksi Museum Mahameru bertambah 1 buah, yaitu berupa 1 kotak wayang kulit (50 – 70 buah). Benda tersebut dihibahkan warga Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Dihibahkannya wayang kulit tersebut dilatar belakangi cerita mistis, namun menjadi fakta ditengah kehidupan warga Jatisari. Menurut Ketua Yayasan Mahameru Blora, Gatot Pranoto, warga desa menyebut benda yang dihibahkan tersebut sebagai wayang kulit Malati. Pemberian nama itu dilatarbelakangi oleh kejadian aneh yang menimpa setiap warga yang menyimpan wayang kulit tersebut, ketika disimpan di rumah salah seorang perangkat desa, tanpa diketahui penyebabnya tiba – tiba salah seorang anggota keluarga perangkat itu jatuh sakit. Dan anehnya, saat wayang kulit itu dipindahkan ke tempat lain, warga yang sakit itu sembuh. Peristiwa itu terjadi berulang kali di Desa Jatisari. Setelah mengalami peristiwa yang sama, warga desa sepakat membiarkan wayang kulit itu di Balai Desa.
Lubang Buaya Dukuh Pohrendeng
Lubang buaya ini merupakan tempat pembuangan mayat korban PKI 1948 yang terletak di dukuh Pohrendeng, Desa Maguwan kecamatan Tunjungan. Korban dari PKI ini yaitu Mr. Iskandar yang merupakan Presiden Landraad pada pengadilan Negeri Blora sejak penjajahan yang diangkat menjadi bupati blora ketika Indonesia merdeka. Ketika menculik Mr. Iskandar tertangkap terikut pula dokter Susanto yang merawat Mr. Iskandar dan seorang camat margorojo pati yang bernama Oetoro. Selain itu dua orang lagi dari blora yaitu Gunandar dan Abu Umar.
Sunan Pojok
Makam Sunan Pojok terletak di jantung Kota Blora dekat dengan Alun-Alun Kota Blora, tepatnya berada disebelah Utara Pasar Kota Blora, sangat strategis dan mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Menurut data inventaris Kepurbakalaan dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Blora serta hasil dari pendapat sebagian tokoh masyarakat mengenai data-data makam para tokoh Pemerintahan dan Keagamaan pada waktu dulu, merupakan awal mula pemerintahan di Kabupaten Blora. Barangkali dari sini dapat digambarkan asal mula Kabupaten Blora. Makam Sunan Pojok adalah Makam Pangeran Surobahu Abdul Rohim. Sebelumnya beliau adalah seorang perwira di Mataram yang telah berhasil memadamkan kerusuhan di daerah pesisir utara atau tepatnya didaerah Tuban, sekembalinya dari Tuban diperjalanan beliau jatuh sakit dan meninggal dunia di Desa Pojok Blora.
Situs Wura-Wari
Lokasi Situs Wura-wari ini dari Jipang, Ngloram dapat ditempuh dengan berkendaraan sekitar sepuluh menit. Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan (vasal) yang pada tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu (semasa Raja Darmawamsa Tguh). Saat itu Kerajaan Mataram Hindu berpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Maospati, Magetan, Jawa Timur. Serangan dilakukan ketika pesta pernikahan putri Raja Darmawamsa Teguh dengan Airlangga, yang juga keponakan raja, sedang dilangsungkan.
Membalas dendam atas kematian istri, mertua, dan kerabatnya, Airlangga yang lolos dari penyerangan dan tinggal di Wanagiri (di daerah perbatasan Jombang-Lamongan), akhirnya balik menghancurkan Haji Wura-Wari. Namun, sebelumnya Haji Wura-Wari terlebih dahulu menyerang Airlangga sehingga dia terpaksa mengungsi dan keluar dari keratonnya di Wattan Mas (sekarang Kecamatan Ngoro, Pasuruan, Jawa Timur).
Serangan balik Airlangga, yang ketika itu sudah dinobatkan menggantikan Darmawamsa Tguh, ditulis dalam Prasasti Pucangan (abad XI) yang terjadi pada tahun 1032 M. Serangan itu pula yang memperkuat dugaan batu bata kuno berserakan di sekitar situs tersebut.
Situs yang ditemukan tim ekspedisi berada di tengah tegalan, di tepi persawahan, berupa tumpukan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman.. Sejak tahun 2000, telah dikumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 sentimeter dengan tebal sekitar 4 cm, serpihan keramik, serta serpihan perunggu yang kini disimpan di Museum Mahameru.
Temuan di situs itu memperkuat isi Prasasti Pucangan bertarikh Saka 963 (1041/1042 Masehi) yang pernah diuraikan ahli huruf kuno (epigraf) Boechori dari Universitas Indonesia. Boechori menyebutkan, …Haji Wura-Wari mijil sangke Lwaram. Mijil mempunyai arti keluar (muncul dari).
Hasil analisis toponimi (nama tempat), kemungkinan nama Lwaram berubah menjadi Desa Ngloram sekarang. “Pelesapan konsonan ’w’, penyengauan di awal kata, dan perubahan vokal ’a’ menjadi ’o’ menjadikan nama lama Lwaram menjadi Ngloram sekarang. Penjelasan seperti itu pula yang membantah berbagai pendapat terdahulu yang menyebutkan Haji Wura-Wari berasal dari daerah Indocina atau Sumatera sebagai koalisi Sriwijaya. Cepu memiliki data arkeologis, toponimi, dan geografis kuat untuk melokasikannya di tepian Bengawan Solo di Desa Ngloram.
Petilasan Kadipaten Jipang Panolan
Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari kota Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid.
Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R Bagus Sumantri, R Bagus Sosrokusumo, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.
Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo
Jumlah sumur tua yang ada mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak. Perlu diketahui, sumur minyak di Cepu ini kali pertama ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian namanya berubah menjadi Shell. Sebagian besar sumur tua tersebut masih ditambang secara tradisional oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan timba yang ditarik oleh sekitar 15 orang atau memanfaatkan sapi untuk menderek. Sumur-sumur tua itu umumnya berada di areal perbukitan dan di tengah-tengah kawasan hutan jati. Maka, perlu upaya ekstra untuk bisa melihatnya
Makam Purwo Suci Ngraho Kedungtuban
Makam Purwo Suci terletak di Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban lebih kurang 43 km kearah tenggara dari Kota Blora, mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat sampai ke jalan desa kemudian untuk mencapai makam dolanjutkan dengan berjalan kaki lebih kurang 500 m sambil menikmati pemandangan alam, karena letaknya berada di puncak perbukitan dengan luas areal bangunan makam lebih kurang 49 persegi. Menurut informasi atau cerita dari masyarakat setempat Makam Purwo Suci adalah makam seorang Adipati Penolan sesudah Haryo Penangsang bernama Pangeran Adipati Notowijoyo. Di dalam halaman makam tersebut juga terdapat Makam Nyai Tumenggung Noto Wijoyo, karena jasa-jasanya, sampai saat ini makam tersebut masih banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk tujuan tertentu, bahkan pernah dipugar oleh Bupati Blora pada tahun 1864 dengan memakai sandi sengkolo, Karenya Guna Saliro Aji ( tahun 1864 ). Menurut ceritera yang panjang, makam ini cocok dikunjungi oleh wisatawan yang senang akan olah roso dan olah kebatinan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Makam Maling Gentiri
Makam Maling Gentiri terletak di Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, lebih kurang 12 km kearah Timur dari Kota Blora, mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Menurut buku karya Sartono Dirdjo ( Tahun 1984 ), serta buku Tradisional Blora karya Prof. DR.Suripan Sadi Hutomo ( tahun 1966 ) serta hasil dari cerita rakyat, Gentiri adalah putra dari Kyai Ageng Pancuran yang saat hidupnya mempunyai kesaktian tinggi ( sakti mondroguna ), suka menolong kepada orang yang sedang kesusahan, orang yang tidak mampu dan sebagainya, suka mencuri ( maling ) namun bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain yang sedang kesusahan. Maling Gentiri dijuluki Ratu Adil yang dianggap sebagai tokoh yang suka mengentaskan rakyat dari kemiskinan. Dengan perjalanan sejarah yang panjang akhirnya Maling Gentiri sadar dan semua perbuatan yang melanggar hukum dia tinggalkan, hingga akhirnya dia meninggal dan dimakamkan di Ds. Kawengan, Kecamatan Jepon. Karena jasa-jasanya banyak, masyarakat setempat atau dari daerah lain yang datang ke makam tersebut karena masih dianggap keramat (Karomah), baik untuk berziarah maupun untuk tujuan tertentu.
Makam Jati Kusumo dan Jati Swara
Makam Jati Kusumo dan Jati Swara terletak di Desa Janjang, Kecamatan Jiken lebih kurang 31 km kearah Tenggara dari Kota Blora atau lebih kurang 10 km dari Kecamatan Jiken, mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dengan luas areal lebih kurang 1 Ha yang didalamnya terdapat Makam Jati Kusumo dan Jati Swara, makam Rondo Kuning ( putri yang tergila-gila ingin diperistri oleh kedua bangsawan tersebut ), empat makam sahabat , Bangsal sesaji, Guci berisi air ( dianggap punya karomah ), Batu Pasujudan, dan juga bangsal untuk pertunjukan Wayang Krucil. Menurut ceritera rakyat setempat Pangeran Jati Kusumo dan Jati Swara adalah dua bersaudara kakak beradik putra dari Sultan Pajang, Mempunyai kesaktian yang tinggi, suka menolong orang lain, suka mengembara kemana-mana dengan tujuan untuk menyebarkan Agama Islam. Terbukti dengan adanya bangunan masjid disana karena jasa-jasanya.
Perpustakaan Daerah
Perpustakaan daerah biasanya merupakan sebuah perpustakaan yang lokasinya di tingkat kabupaten. Sebagai contoh misalnya: perpustakaan yang ada dikabupaten Blora yang beralamat di jalan A.Yani kompleks GOR Kolonel Soenandar. Di perpustakaan ini tersimpan berbagai macam koleksi sumber sejarah tertulis yang meliputi berbagai bidang serta buku-buku mengenai sejarah blora, kebudayaan blora, suku Samin dan sumber-sumber lain yang kompeten dalam penulisan sejarah.
Museum Mahameru
Berawal dari rasa iri, meri terhadap kabupaten tetangga seperti Rembang, Pati, Grobogan, dan Bojonegoro (Jawa Timur), Mahameru ini dibangun,” ungkap Ketua Yayasan Mahameru Blora Gatot Pranoto BE. Pada awalnya, dengan merekrut beberapa personel muda yang memiliki keinginan untuk pelestarian budaya dan sejarah, obsesi Mahameru masih ambyah-ambyah atau kurang terfokus. Begitu berdiri, tidak tanggung-tanggung langsung berbadan hukum. Kali pertama yang dilakukan sejumlah personel Mahameru adalah menelusuri literatur dan studi lapangan dengan obsesi menyusun buku sejarah Blora. Latar belakangnya, selama ini masih terlalu banyak versi penyusunan sehingga buku sejarah Blora ini belum diketahui ending-nya.
Didorong oleh keinginan terus maju, tidak puas dengan apa yang diraih saat ini, Yayasan Mahameru secara rutin menerjunkan tim penelusur dan pemantau benda-benda bersejarah ke seluruh pelosok di Blora. Fosil binatang raksasa, pecahan keramik dari negeri manca, bebatuan, tosanaji telah ditemukan tim ekspedisi itu. penemuan fosil kerbau purba yang diperkirakan sudah berusia 1 juta – 2 juta tahun lalu di Kecamatan Menden, Blora, kini tim Yayasan Mahameru Blora kembali menemukan fosil binatang purba jenis pemakan daging yang diperkirakan juga berusia jutaan tahun. Temuan fosil baru itu secara lisan telah dilaporkan ke Dinas Pariwisata Blora dan barangnya saat ini untuk sementara disimpan di Rumah Sejarah Blora..
Temuan di Desa Rowobungkul adalah pecahan keramik yang diperkirakan peninggalan zaman Dinasti Ming, sebagian peninggalan Dinasti Tsung dan Dinasti Tsing. Yang menarik, hamparan pecahan keramik itu berada di area yang sangat luas, 20 hektare
Benda bersejarah yang menjadi koleksi Museum Mahameru bertambah 1 buah, yaitu berupa 1 kotak wayang kulit (50 – 70 buah). Benda tersebut dihibahkan warga Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Dihibahkannya wayang kulit tersebut dilatar belakangi cerita mistis, namun menjadi fakta ditengah kehidupan warga Jatisari. Menurut Ketua Yayasan Mahameru Blora, Gatot Pranoto, warga desa menyebut benda yang dihibahkan tersebut sebagai wayang kulit Malati. Pemberian nama itu dilatarbelakangi oleh kejadian aneh yang menimpa setiap warga yang menyimpan wayang kulit tersebut, ketika disimpan di rumah salah seorang perangkat desa, tanpa diketahui penyebabnya tiba – tiba salah seorang anggota keluarga perangkat itu jatuh sakit. Dan anehnya, saat wayang kulit itu dipindahkan ke tempat lain, warga yang sakit itu sembuh. Peristiwa itu terjadi berulang kali di Desa Jatisari. Setelah mengalami peristiwa yang sama, warga desa sepakat membiarkan wayang kulit itu di Balai Desa.
Lubang Buaya Dukuh Pohrendeng
Lubang buaya ini merupakan tempat pembuangan mayat korban PKI 1948 yang terletak di dukuh Pohrendeng, Desa Maguwan kecamatan Tunjungan. Korban dari PKI ini yaitu Mr. Iskandar yang merupakan Presiden Landraad pada pengadilan Negeri Blora sejak penjajahan yang diangkat menjadi bupati blora ketika Indonesia merdeka. Ketika menculik Mr. Iskandar tertangkap terikut pula dokter Susanto yang merawat Mr. Iskandar dan seorang camat margorojo pati yang bernama Oetoro. Selain itu dua orang lagi dari blora yaitu Gunandar dan Abu Umar.
Sunan Pojok
Makam Sunan Pojok terletak di jantung Kota Blora dekat dengan Alun-Alun Kota Blora, tepatnya berada disebelah Utara Pasar Kota Blora, sangat strategis dan mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Menurut data inventaris Kepurbakalaan dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Blora serta hasil dari pendapat sebagian tokoh masyarakat mengenai data-data makam para tokoh Pemerintahan dan Keagamaan pada waktu dulu, merupakan awal mula pemerintahan di Kabupaten Blora. Barangkali dari sini dapat digambarkan asal mula Kabupaten Blora. Makam Sunan Pojok adalah Makam Pangeran Surobahu Abdul Rohim. Sebelumnya beliau adalah seorang perwira di Mataram yang telah berhasil memadamkan kerusuhan di daerah pesisir utara atau tepatnya didaerah Tuban, sekembalinya dari Tuban diperjalanan beliau jatuh sakit dan meninggal dunia di Desa Pojok Blora.
Situs Wura-Wari
Lokasi Situs Wura-wari ini dari Jipang, Ngloram dapat ditempuh dengan berkendaraan sekitar sepuluh menit. Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan (vasal) yang pada tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu (semasa Raja Darmawamsa Tguh). Saat itu Kerajaan Mataram Hindu berpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Maospati, Magetan, Jawa Timur. Serangan dilakukan ketika pesta pernikahan putri Raja Darmawamsa Teguh dengan Airlangga, yang juga keponakan raja, sedang dilangsungkan.
Membalas dendam atas kematian istri, mertua, dan kerabatnya, Airlangga yang lolos dari penyerangan dan tinggal di Wanagiri (di daerah perbatasan Jombang-Lamongan), akhirnya balik menghancurkan Haji Wura-Wari. Namun, sebelumnya Haji Wura-Wari terlebih dahulu menyerang Airlangga sehingga dia terpaksa mengungsi dan keluar dari keratonnya di Wattan Mas (sekarang Kecamatan Ngoro, Pasuruan, Jawa Timur).
Serangan balik Airlangga, yang ketika itu sudah dinobatkan menggantikan Darmawamsa Tguh, ditulis dalam Prasasti Pucangan (abad XI) yang terjadi pada tahun 1032 M. Serangan itu pula yang memperkuat dugaan batu bata kuno berserakan di sekitar situs tersebut.
Situs yang ditemukan tim ekspedisi berada di tengah tegalan, di tepi persawahan, berupa tumpukan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman.. Sejak tahun 2000, telah dikumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 sentimeter dengan tebal sekitar 4 cm, serpihan keramik, serta serpihan perunggu yang kini disimpan di Museum Mahameru.
Temuan di situs itu memperkuat isi Prasasti Pucangan bertarikh Saka 963 (1041/1042 Masehi) yang pernah diuraikan ahli huruf kuno (epigraf) Boechori dari Universitas Indonesia. Boechori menyebutkan, …Haji Wura-Wari mijil sangke Lwaram. Mijil mempunyai arti keluar (muncul dari).
Hasil analisis toponimi (nama tempat), kemungkinan nama Lwaram berubah menjadi Desa Ngloram sekarang. “Pelesapan konsonan ’w’, penyengauan di awal kata, dan perubahan vokal ’a’ menjadi ’o’ menjadikan nama lama Lwaram menjadi Ngloram sekarang. Penjelasan seperti itu pula yang membantah berbagai pendapat terdahulu yang menyebutkan Haji Wura-Wari berasal dari daerah Indocina atau Sumatera sebagai koalisi Sriwijaya. Cepu memiliki data arkeologis, toponimi, dan geografis kuat untuk melokasikannya di tepian Bengawan Solo di Desa Ngloram.
Petilasan Kadipaten Jipang Panolan
Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari kota Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid.
Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R Bagus Sumantri, R Bagus Sosrokusumo, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.
Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo
Jumlah sumur tua yang ada mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak. Perlu diketahui, sumur minyak di Cepu ini kali pertama ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian namanya berubah menjadi Shell. Sebagian besar sumur tua tersebut masih ditambang secara tradisional oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan timba yang ditarik oleh sekitar 15 orang atau memanfaatkan sapi untuk menderek. Sumur-sumur tua itu umumnya berada di areal perbukitan dan di tengah-tengah kawasan hutan jati. Maka, perlu upaya ekstra untuk bisa melihatnya
Makam Purwo Suci Ngraho Kedungtuban
Makam Purwo Suci terletak di Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban lebih kurang 43 km kearah tenggara dari Kota Blora, mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat sampai ke jalan desa kemudian untuk mencapai makam dolanjutkan dengan berjalan kaki lebih kurang 500 m sambil menikmati pemandangan alam, karena letaknya berada di puncak perbukitan dengan luas areal bangunan makam lebih kurang 49 persegi. Menurut informasi atau cerita dari masyarakat setempat Makam Purwo Suci adalah makam seorang Adipati Penolan sesudah Haryo Penangsang bernama Pangeran Adipati Notowijoyo. Di dalam halaman makam tersebut juga terdapat Makam Nyai Tumenggung Noto Wijoyo, karena jasa-jasanya, sampai saat ini makam tersebut masih banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk tujuan tertentu, bahkan pernah dipugar oleh Bupati Blora pada tahun 1864 dengan memakai sandi sengkolo, Karenya Guna Saliro Aji ( tahun 1864 ). Menurut ceritera yang panjang, makam ini cocok dikunjungi oleh wisatawan yang senang akan olah roso dan olah kebatinan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Makam Maling Gentiri
Makam Maling Gentiri terletak di Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, lebih kurang 12 km kearah Timur dari Kota Blora, mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Menurut buku karya Sartono Dirdjo ( Tahun 1984 ), serta buku Tradisional Blora karya Prof. DR.Suripan Sadi Hutomo ( tahun 1966 ) serta hasil dari cerita rakyat, Gentiri adalah putra dari Kyai Ageng Pancuran yang saat hidupnya mempunyai kesaktian tinggi ( sakti mondroguna ), suka menolong kepada orang yang sedang kesusahan, orang yang tidak mampu dan sebagainya, suka mencuri ( maling ) namun bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain yang sedang kesusahan. Maling Gentiri dijuluki Ratu Adil yang dianggap sebagai tokoh yang suka mengentaskan rakyat dari kemiskinan. Dengan perjalanan sejarah yang panjang akhirnya Maling Gentiri sadar dan semua perbuatan yang melanggar hukum dia tinggalkan, hingga akhirnya dia meninggal dan dimakamkan di Ds. Kawengan, Kecamatan Jepon. Karena jasa-jasanya banyak, masyarakat setempat atau dari daerah lain yang datang ke makam tersebut karena masih dianggap keramat (Karomah), baik untuk berziarah maupun untuk tujuan tertentu.
Makam Jati Kusumo dan Jati Swara
Makam Jati Kusumo dan Jati Swara terletak di Desa Janjang, Kecamatan Jiken lebih kurang 31 km kearah Tenggara dari Kota Blora atau lebih kurang 10 km dari Kecamatan Jiken, mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dengan luas areal lebih kurang 1 Ha yang didalamnya terdapat Makam Jati Kusumo dan Jati Swara, makam Rondo Kuning ( putri yang tergila-gila ingin diperistri oleh kedua bangsawan tersebut ), empat makam sahabat , Bangsal sesaji, Guci berisi air ( dianggap punya karomah ), Batu Pasujudan, dan juga bangsal untuk pertunjukan Wayang Krucil. Menurut ceritera rakyat setempat Pangeran Jati Kusumo dan Jati Swara adalah dua bersaudara kakak beradik putra dari Sultan Pajang, Mempunyai kesaktian yang tinggi, suka menolong orang lain, suka mengembara kemana-mana dengan tujuan untuk menyebarkan Agama Islam. Terbukti dengan adanya bangunan masjid disana karena jasa-jasanya.
SEJARAH KOTA BLORA
By : Unknown
Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti Lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA.
Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah..
Dalam bahasa Jawa sering terjadi
pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan
perubahan arti kata.Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata
WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi BALORA dan kata BALORA
akhirnya menjadi BLORA.
Jadi nama BLORA berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.
Blora Era Kerajaan dibawah Kadipaten Jipang
Blora di bawah Pemerintahan Kadipaten
Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih dibawah pemerintahan
Demak. Adipati Jipang pada saat itu bernama Aryo Penangsang, yang lebih
dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaan meliputi :
Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri.
Akan tetapi setelah Jaka Tingkir ( Hadiwijaya ) mewarisi tahta Demak
pusat pemerintahan dipindah ke Pajang. Dengan demikian Blora masuk
Kerajaan Pajang.
Blora dibawah Kerajaan Mataram
Kerajaan Pajang tidak lama memerintah,
karena direbut oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede
Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mtaram bagian Timur atau daerah Bang
Wetan.
Pada masa pemerintahan Paku Buwana I
(1704-1719 ) daerah Blora diberikan kepada puteranya yang bernama
Pangeran Blitar dan diberi gelar Adipati. Luas Blora pada saat itu 3.000
karya (1 karya = ¾ hektar ). Pada tahun 1719-1727 Kerajaan Mataram
dipimpin oleh Amangkurat IV, sehingga sejak saat itu Blora berada di
bawah pemerintahan Amangkurat IV.
Blora di Jaman Perang Mangkubumi (tahun 1727 – 1755)
Pada saat Mataram di bawah Paku Buwana II
(1727-1749) terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mangku Bumi dan
Mas Sahid, Mangku Bumi berhasil menguasai Sukawati, Grobogan, Demak,
Blora, dan Yogyakarta. Akhirnya Mangku Bumi diangkat oleh rakyatnya
menjadi Raja di Yogyakarta.
Berita dari Babad Giyanti dan Serat
Kuntharatama menyatakan bahwa Mangku Bumi menjadi Raja pada tanggal 1
Sura tahun Alib 1675, atau 11 Desember 1749. Bersamaan dengan
diangkatnya Mangku Bumi menjadi Raja, maka diangkat pula para pejabat
yang lain, diantaranya adalah pemimpin prajurit Mangkubumen, Wilatikta,
menjadi Bupati Blora.
Blora dibawah Kasultanan Perang Mangku
Bumi diakhiri dengan perjanjian Giyanti, tahun 1755, yang terkenal
dengan nama palihan negari, karena dengan perjanjian tersebut Mataram
terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah Paku
Buwana III, sedangkan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwana I. Di
dalam Palihan Negari itu, Blora menjadi wilayah Kasunanan sebagai bagian
dari daerah Mancanegara Timur, Kasunanan Surakarta. Akan tetapi Bupati
Wilatikta tidak setuju masuk menjadi daerah Kasunanan, sehingga beliau
pilih mundur dari jabatannya.
Blora sebagai Kabupaten
Sejak zaman Pajang sampai dengan zaman
Mataram Kabupaten Blora merupakan daerah penting bagi Pemerintahan Pusat
Kerajaan, hal ini disebabkan karena Blora terkenal dengan hutan
jatinya.
Blora mulai berubah statusnya dari
apanage menjadi daerah Kabupaten pada hari Kamis Kliwon, tanggal 2 Sura
tahun Alib 1675, atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi, yang sampai
sekarang dikenal dengan HARI JADI KABUPATEN BLORA.Adapun Bupati
pertamanya adalah WILATIKTA.
Perjuangan Rakyat Blora menentang Penjajahan
Perlawanan Rakyat Blora yang dipelopori
petani muncul pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Perlawanan
petani ini tak lepas dari makin memburuknya kondisi sosial dan ekonomi
penduduk pedesaan pada waktu itu..
Pada tahun 1882 pajak kepala yang
diterapkan oleh Pemerintah Penjajah sangat memberatkan bagi pemilik
tanah ( petani ) . Di daerah-daerah lain di Jawa, kenaikan pajak telah
menimbulkan pemberontakan petani, seperti peristiwa Cilegon pada tahun
1888. Selang dua tahun kemudian seorang petani dari Blora mengawali
perlawanan terhadap pemerintahan penjajah yang dipelopori oleh Samin
Surosentiko.
Gerakan Samin sebagai gerakan petani anti
kolonial lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, yaitu suatu
gerakan yang tidak merupakan pemberontakan radikal bersenjata.
Beberapa indikator penyebab adanya pemberontakan untuk menentang kolonial penjajah Belanda antara lain :
Berbagai macam pajak diimplementasikan di daerah Blora
Perubahan pola pemakaian tanah komunal
Pembatasan dan pengawasan oleh Belanda mengenai penggunaan hasil hutan oleh penduduk
Indikator-indikator ini mempunyai
hubungan langsung dengan gerakan protes petani di daerah Blora. Gerakan
ini mempunyai corak MILLINARISME, yaitu gerakan yang menentang ketidak
adilan dan mengharapkan zaman emas yang makmur.